Pengembangan Program Studi Desain Furnitur

Perkembangan Industri Furnitur

Permasalahan bidang desain furnitur saat ini dilatarbelakangi oleh situasi dan kondisi yang berkembang dalam lingkungan, masyarakat dan tren dunia seperti banyak nya usaha mebel/furnitur yang mengolah bahan baku seperti kayu dengan produksi yang dihasilkan seperti meja, kursi, jendela, pintu, lemari dan sebagainya, tetapi hasinya tidak menarik secara desain maupun kualitas pengerjaan yang tidak baik bahkan perkembangan desain nya sangat lambat. Desain furnitur yang ada masih sederhana, belum banyak kreasi dan inovasi dalam desainya. Hal ini banyak terjadi karena rendahnya pendidikan para pengrajin kayu dan kurangnya pengetahuan mereka tentang tren desain furnitur.

Program Studi Desain Furnitur melalui Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu memiliki konsep Hubungan Industri (Private Sector Cooperation) yang disusun berdasarkan permintaan industri yang akan mengsinergikan antara perkembangan informasi di industri dengan pelaksanaan pendidikan di Program Studi.

Pengembangan Jangka Panjang (15 tahun)

Program Studi Desain Furnitur memiliki keunggulan karena menyelenggarakan program studi yang spesifik pada desain furnitur, dimana pada tingkat pendidikan tinggi penyelenggaraan pendidikan di Indonesia pada bidang ilmu yang sama tidak dijumpai. Untuk pengembangan keilmuan, program studi desain furnitur akan mendorong pengembangan desain furnitur yang kreatif, inovatif, berbasis teknologi dan budaya. Prinsip dasar yang jelas dalam menghasilkan sebuah karya desain, didasarkan pada konsep bentuk yang disesuaikan dengan fungsi dan aktivitas pemakai, kesesuaian bahan yang dipilih, sistem konstruksi yang benar serta pemakaian bahan finishing yang tepat. Demikian juga mengenai volume (besaran) dengan dimensi (ukuran) dan standard yang ergonomis. Memperhatikan pengerjaan detil atau profil, pemilihan jenis assesoris dengan teliti, disesuaikan dengan gaya (style) desain tersebut, dalam upaya menghasilkan desain fungsional, ergonomis dan estetis tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang telah menjadi identitas bangsa.

Pada 15 tahun yang akan datang, pendapatan masyarakat akan meningkat yang menyebabkan daya beli masyarakat juga akan lebih besar namun dengan persyaratan yang lebih kompleks. Ini berarti bahwa masyarakat dapat membeli sesuatu tetapi dengan berbagai persyaratan yang diusulkan, seperti produk sehat dan penggunaan bahan-bahan alami. Masyarakat juga lebih memperhatikan kelestarian sumber daya alam yang digunakan (ramah lingkungan).

Dari sisi furnitur, masyarakat akan cenderung membutuhkan kayu komposit yang berasal dari kayu solid. Masyarakat juga menginginkan produk yang fleksibel dan multifungsi karena lebih ekonomis, lebih menarik dari sisi tampilan, dan menggunakan bahan ramah lingkungan (bahan yang dapat didaur ulang). Sehingga persaingan antara perusahaan dalam membuat produk furnitur yang berkualitas akan lebih tinggi dan persyaratan/keinginan pelanggan akan lebih rinci. Oleh karena itu, industri dituntut harus meningkatkan produksi dengan menggunakan sistem dan tenaga kerja secara efektif dan efisien, menggunakan mesin, peralatan uji, dan alat-alat lain yang bekerja secara otomatis dan digital, serta karya desain yang fungsional, ergonomis dam estetis Industri furnitur akan memprioritaskan pasar domestik.

Secara kajian capaian pembelajaran pada desain furnitur ke depan diharapkan akan mampu menghasilkan lulusan profesional yang kompeten di bidang desain Desain Furnitur dan Produk Kayu yang mampu menguasai wawasan dasar furnitur, konteks furnitur interior,

bahan baku dan konstruksi mebel, sketsa desain furnitur, rancangan gambar desain produk, penerapan konsep desain produk, pembuatan prototype, pengujian, sampai dengan pengembangan ide dan inovasi desain produk furnitur. Lulusan desain furnitur yang dihasilkan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu diharapkan mampu menjadi Junior Designer memiliki kemampuan berpikir cepat dan reaktif terhadap perkembangan tren, sehingga dia bisa menghasilkan karya desain furnitur kreatif dan inovatif sesuai yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen.

Adapun beberapa rencana strategis atau tahapan atau kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran jangka panjang dari program studi diantaranya sebagai berikut:

  • Melakukan promosi dan meningkatan mutu calon mahasiswa program studi dengan peningkatan rasio menjadi 1:7
    • Laboratorium desain terakreditasi dan menjadi unit bisnis
    • Pengadaan buku teks terkait bidang desain furnitur baik secara fisik maupun elektronik
    • Pengembangan    kurikulum   program    studi    mengacu   standar    internasional                              untuk memperoleh akreditasi internasional
    • Peningkatan jenjang pendidikan dosen, instruktur, dan tenaga kependidikan program studi
    • Pengembangan kemampuan dosen program studi dalam penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah
    • Pelaksanaan magang dosen program studi di industri furnitur
    • Pelatihan bagi tenaga laboran dan tenaga administrasi program studi
    • Mengembangkan kerjasama penelitian antar universitas dengan mitra pendidikan di LN
    • Pengembangan penelitian terapan yang diaplikasikan di industri
    • Penelitian terapan program studi yang masuk dalam jurnal terakreditasi dan jurnal internasional
    • Pengembangan program desa binaan oleh mahasiswa dan dosen program studi
    • Pengembangan kerjasama dengan industri furnitur internasional untuk magang dosen dan mahasiswa program studi.

Program Studi Desain Furnitur harus menyiapkan metodologi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan industri dengan menyiapkan mesin dan peralatan pendukung yang selangkah lebih maju dari industri, meningkatkan kompetensi dosen, dan memperbarui bahan ajar. Akhirnya, lulusan akan memiliki pengetahuan dan kemampuan keterampilan tentang proses produksi furnitur seperti menghasilkan produk berkualitas tinggi, harga murah, dan waktu pemrosesan yang cepat (efektivitas dan efisiensi tercapai). Mahasiswa harus diperkenalkan dengan atmosfir dan suasana seperti di industry dengan melakukan Praktek Industri untuk membuat mahasiswa terbiasa dengan situasi industri. Selain itu, pembentukan sikap juga harus diperhatikan. Mahasiwa juga dibekali dengan keterampilan kewirausahaan.

Pengembangan Jangka Menegah (5 Tahun)

Dalam pengembangan jangka menengah, industri menghadapi tantangan dalam mencari pekerja yang profesional dan terampil pada tingkatan manajemen menengah untuk posisi Kepala Bagian dan Manajer Departemen. Akibat kurangnya kompetensi pekerja sehingga membatasi perusahaan untuk menerapkan sistem produksi yang modern (otomasi pemesinan) dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Akibatnya, saat ini terjadi kesenjangan antara jumlah kepala seksi/bagian dengan jumlah operator dan buruh (gambar 4). Karena terlalu sedikitnya karyawan yang terampil di bagian manajemen pada tingkat menengah (middle management) menyebabkan jumlah operator dan pekerja tidak terampil yang sangat besar. Kesenjangan ini membatasi daya saing perusahaan.

Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan ini, Program Studi Desain Furnitur diharapkan dapat mendidik para mahasiswa untuk dapat memiliki kompetensi dalam menjalankan tugas sebagai Junior Designer, dengan kata lain untuk mengisi celah manajemen pada tingkat menengah (middle management) industri.

Lulusan Program Studi Desain Furnitur diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menduduki posisi kepala seksi sehingga mereka harus mampu mengelola pekerja lain dengan kompetensi yang beragam. Lulusan harus mampu menjawab perkembangan dunia industri furnitur dengan memiliki keunggulan dalam inovasi desain furnitur, memiliki beragam keterampilan (multi kompetensi), keterampilan analitis untuk pemilihan bahan baku, analisis proses kerja, analisis kualitas, kemampuan untuk bekerja sama, kepemimpinan, dan memiliki sikap / soft skill lain yang sesuai dengan persyaratan industri furnitur.

Adapun beberapa rencana strategis atau tahapan atau kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran jangka menengah dari program studi diantaranya sebagai berikut:

  • Melakukan rekrutmen calon mahasiswa di SMA/SMK di Kendal dan Jawa Tengah
    • Melaksanakan penyiapan laboratorium melalui Pengadaan Laboratorium Desain dan peralatannya untuk menunjang kegiatan praktek mahasiswa.
    • Pengembangan sistem informasi kependidikan, sistem informasi akademik dan perpustakaan bagi program studi
    • Pengadaan buku teks baik fisik maupun elektronik bidang desain furnitur
    • Pengembangan kurikulum program studi yang berbasis kompetensi mengacu pada SKKNI dan perkembangan teknologi industri
    • Penjadwalan kuliah dan praktikum program studi dengan sistem blok
    • Rekrutmen dosen dengan kualifikasi pendidikan minimal S2 bidang desain/arsitektur
    • Peningkatan kompetensi dosen melalui pelatihan dan magang di industri
    • Mendorong penelitian bersama antara dosen dan mahasiswa program studi
  • Melakukan kerjasama penelitian dengan institusi pendidikan sejenis
    • Penelitian terapan yang masuk dalam jurnal terakreditasi dan jurnal internasional
    • Pengembangan program pelatihan terkait desain jangka pendek kepada masyarakat
    • Kerjasama dengan industri furnitur lokal untuk pelayanan jasa produksi dan pengujian ergonomi produk
    • Benchmarking dan pengembangan kerjasama bidang desain dengan institusi pendidikan sejenis di LN.

Proses Bisnis

Sasaran utama Program Studi adalah mempersiapkan lulusan sebagai sumber daya manusia yang siap bekerja di industri furnitur dan pengolahan kayu. Oleh karena itu output dari Program Studi harus memenuhi persyaratan industri.

Proposisi nilai Program Studi adalah alumni akan terampil sebagai kepala seksi, mendapatkan penempatan kerja dan bergabung dengan jaringan furnitur profesional dan industri kayu. Ini akan meningkatkan daya saing industri. Selain itu, kerja sama erat akan dibangun antara Program Studi dan sektor swasta.

Untuk merealisasikan hal ini, Program Studi membangun sistem pendidikan dan pelatihan dengan melibatkan industri. Program Studi juga melakukan hubungan langsung dan tidak langsung dengan semua mitra utama. Program Studi juga membangun kerjasama internasional untuk memperkuat sistem manajemen dan pendidikan.

Program Studi Desain Furnitur secara adminsitratif memiliki ruang laboratorium komputer dan ruang laboratorium gambar yang masing-asing berjumlah 1 unit ruangan. Program Studi melalui dosen-dosen didalamnya juga menjalankan Tridarma Pendidikan melalui penerapan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang saling terintegrasi.

Program Studi Desain Furnitur juga bekerja sama erat dengan industri, Kementerian Perindustrian dan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Swisscontact melalui program S4C (Skill for Competitiveness), lembaga pendidikan tinggi lainnya, Lembaga

Sertifikasi Profesi (LSP), Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Komite Pendidikan, dan Asosiasi Furnitur.

Sistem pembiayaan di program studi baik biaya pelaksanaan pendidikan, gaji dosen dan staff, pengembangan SDM dan infrastruktur, dan juga pemasaran saat ini masih dikoordinir dan bergantung kepada anggaran Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Kendal yag berasal dari pemerintah.

Analisis SWOT

Analisis SWOT digunakan untuk melihat kondisi nyata saat ini. Adapun hasil analisanya adalah sebagai berikut:

Tabel 2. SWOT Analysis

Faktor Internal
StrenghtsWeaknesses
Semua kegiatan program studi didanai dan didukung oleh Kementerian Perindustrian melalui PoliteknikKurangnya staf permanen prodi dalam kualitas dan kuantitas (tidak ada latar belakang profesional dalam furnitur dan kayu)
Industri mendukung Program studi melalui dosen industri dan menjamin tempat mahasiswa magang sejak awalDosen industri di prodi tidak memahami metodologi pengajaran dan pembelajaran.
Program studi memiliki infrastruktur utama laboratorium komputer dan laboratorium gambar khusus membuat desain secara digital dan manualKegiatan prodi yang tidak direncanakan dalam anggaran tidak mudah dibiayai, dan memerlukan waktu lama untuk proses pengajuannya
Implementasi program dan kegiatan didukung oleh Politeknik dan Komite.Kurangnya soft skill untuk staf dan mahasiswa prodi
Banyak peluang kerja di industri furnitur dikarenakan masih sedikitnya lulusan desainer bidang perkayuanFasilitas pendukung prodi (Teknologi informasi, peralatan keselamatan, fasilitas mahasiswa) tidak memadai dan masih dalam proses.
Pengembangan kurikulum dan RPS program studi dibantu oleh Pemerintah Swiss melalui S4C.Instrumen pemantauan (SOP) dan alat untuk kegiatan akademik prodi masih dalam proses penyusunan
Beasiswa penuh (tanpa SPP) bagi mahasiswa selama 5 tahun kedepan (2022)Masih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi
Faktor Ekternal
OpportunitiesThreats
Satu satunya program studi desain dalam bidang perkayuanKondisi ekonomi global yang tidak stabil dan tren desain masa depan
Pasar tenaga kerja di sektor desain furnitur menawarkan banyak peluang kerjaKurangnya bahan baku dan masa tumbuh yang panjang untuk kayu
Kerjasama / kolaborasi (nasional dan internasional) dengan lembaga dan perusahaan lain tersediaSikap mahasiswa yang dibentuk dan masih dipengaruhi oleh lingkungan sosial di sekitar tempat tinggal
Kondisi bagus untuk R&D menemukan bahan baru dalam furnitur dan pemrosesan kayu 
Banyak pameran desain di bidang industri furnitur dan kayu sehingga program dapat bergabung untuk promosi dan berkompetisi 
Terletak di Kawasan Industri Kendal (KIK) 
Perkembangan yang cepat dan variatif untuk aplikasi/software pembuatan desain digital 
Industri lain di sektor kayu (panel, papan, konstruksi) 

Sistem Pendidikan Program Studi

Gambar 6. Sistem Pendidikan Program Studi Desain Furnitur mengacu kepada
Model Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu

Manajemen

Pengelola Program Studi Desain Furnitur masih baru dan beranggotakan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu yang tidak berhubungan dengan perkayuan. Sehingga manajemen perlu memanfaatkan keragaman sumber daya internalnya dan menciptakan persepsi yang sama untuk meningkatkan kerja sama dalam mencapai visi, misi, tujuan serta sasaran yang ditetapkan oleh Program Studi.

Sumber Daya Manusia

Program Studi Desain Furnitur memiliki 5 dosen tetap dan 2 dosen tidak tetap. Komposisi dosen yaitu 2 orang dosen merupakan pegawai negeri sipil yang pindah dari kampus / sekolah lain ke Program Studi Desain Furnitur – Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu, dan 3 orang dosen adalah dosen baru (calon pegawai negeri sipil). Semuanya belum memiliki latar belakang ilmiah di bidang furnitur, oleh karena itu melalui

Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu, program studi desain furnitur merekrut dosen dari industri/praktisi dan dosen tidak tetap lainnya dengan jumlah yang dikondisikan sesuai dengan kebutuhan. Proses pembelajaran dilakukan bersama, dosen dari internal Program Studi Desain Furnitur – Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu dan dosen dari industri/praktisi serta dosen tidak tetap lainnya. Di masa mendatang, dosen industri/praktisi bersifat tidak tetap. Namun, 4 orang dosen di antaranya dipertahankan melalui proses Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Ke depannya, dosen industri/praktisi dapat menjadi pembicara untuk kuliah umum. Hal ini dikarenakan, dosen industri/praktisi tidak memiliki waktu untuk mengajar secara teratur.

Untuk mengatasi kekurangan staf, perlu penambahan jumlah staf Politeknik. Hal ini dilakukan dengan merekrut PPNPN (Pegawai Pemerintah Non-PNS) atau melalui seleksi terbuka Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas dan mengembangkan potensi staf, diperlukan pelatihan dan sertifikasi kompetensi.

Infrastruktur

Secara admisitrasi saat ini Program Studi Desain Furnitur memiliki 3 ruang kelas dengan kapasitas 30 siswa yang memiliki AC, proyektor LCD, dan papan tulis, ditambah 1 laboratorium komputer yang berkapasitas 33 komputer dengan spesifikasi untuk membuat desain 3D, dan 1 laboratorium gambar dengan kapasitas 32 unit meja gambar. Workshop/bengkel furnitur digunakan bersama oleh 3 program studi dengan otoritas pemakaian berada dibawah program studi teknik produksi furniture. Mesin yang saat ini tersedia hanya mencakup mesin untuk proses pengerjaan kayu hingga proses perakitan.

Kampus Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu memiliki fasilitas pendukung yang cukup untuk kegiatan belajar mengajar di Program Studi Desain Furnitur seperti jaringan internet untuk staf dan dosen. Tetapi, untuk mencapai proses pembelajaran yang ideal, perlu dilengkapi dengan fasilitas pendukung lainnya seperti penambahan laboratotrium komputer dan laboratorium gambar, pengadaan laboratorium ergonomi, pengadaan studio desain, pengadaan teknologi informasi, pengadaan peralatan keselamatan, serta pengadaan fasilitas mahasiswa.

Program Pendidikan

Program Studi Desain Furnitur memiliki kurikulum dengan komposisi 40% teori di kelas, praktikum 30% di laboratorium dan bengkel, dan 30% magang di perusahaan / industri. Pengembangan sumber daya manusia industri yang sejalan dengan kebutuhan industri tidak hanya terbatas pada keterampilan, tetapi soft skill sebagai kegiatan ekstrakurikuler perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas lulusan. Pada akhirnya, lulusan program studi desain furnitur dapat menjadi SDM industri yang handal dan profesional di bidang desain untuk produk furnitur.

Program Studi Desain Furnitur juga harus mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan melibatkan mahasiswanya yang dapat dimanfaatkan dan berguna bagi penerapan teori di industri.

Untuk mewujudkannya, dosen dan mahasiswa perlu mengenali budaya industri dan memiliki pengetahuan dan keterampilan khususnya dalam bidang membuat desain produk yang sesuai dengan kebutuhan industri. Oleh karena itu program magang industri diperlukan untuk dosen dan mahasiswa.

Selain itu program kegiatan yang direncanakan membutuhkan referensi / standar kegiatan dalam bentuk instrumen pemantauan Prosedur Operasional Standar (SOP) yang dapat dijalankan secara optimal sehingga proses penyusunannya perlu segera diselesaikan.

Kerjasama Industri

Program Studi Desain Furnitur melalui Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu telah bekerja sama dengan lebih dari 25 industri. Tetapi hal ini perlu ditingkatkan secara bertahap dan terus menerus. Manfaat yang didapat dari kolaborasi ini tentu sangat beragam. Tetapi secara umum, tujuannya adalah untuk lebih dekat dengan dunia industri untuk menjamin aliran informasi dan pengetahuan dari industri ke Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu. Kolaborasi dengan industri dimulai dengan keterlibatan industri dalam persiapan kurikulum dan pengajaran, kunjungan siswa, dan praktik industri. Kolaborasi dengan lembaga lain, seperti lembaga pemerintah daerah, dan perguruan tinggi lainnya masih belum dilakukan dan akan dilakukan sesegera mungkin.

Roadmap Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu

Rencana Strategis 2019 – 2023

Renstra untuk 5 tahun kedepan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1 Indikator rencana strategis